Ekosistem Pertanian Kukar Digarap Terpadu, 100 Ribu Pelaku Siap Didorong Jadi Petani Tangguh

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menata ulang arah pembangunan ekonominya dengan menempatkan sektor pertanian dalam arti luas sebagai salah satu penggerak utama. Bukan hanya bicara produksi pangan, tetapi membangun ekosistem pertanian yang terhubung dari hulu ke hilir, sejalan dengan Visi Kukar Idaman Terbaik yang menyiapkan Kukar sebagai salah satu pusat pangan bagi Kalimantan Timur (Kaltim) dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Kukar, dr Aulia Rahman Basri dan Rendi Solihin, strategi pembangunan perlahan digeser dari dominasi migas dan batu bara menuju penguatan sektor pangan, peternakan, dan perikanan. Ketiga sektor ini didorong menjadi penopang ekonomi jangka panjang yang lebih tahan gejolak dan berpihak pada masyarakat di desa-desa sentra produksi.
Melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Pemkab tidak berjalan sendiri. Berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis diajak terlibat untuk membangun ekosistem pertanian terpadu, mulai dari dukungan infrastruktur, kelembagaan, hingga akses permodalan. Arah besar ini telah dituangkan dalam Rencana Strategis (Renstra) RPJMD Kukar 2025–2029, khususnya lewat program unggulan Petani, Peternak, dan Nelayan Tangguh.
Dalam program unggulan petani, peternak dan nelayan tangguh, Distanak Kukar tidak hanya terfokus pada peningkaymtan produktivitas, tetapi juga pada transformasi pertanian dalam arti luas.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik, saat ini tengah menyasar 100 ribu pelaku pertanian dalam arti luas, sesuai RPJMD Kukar 2025-2029 yang telah disusun. “Targetnya jelas, 100 ribu penerima manfaat hingga 2030. Kami ingin dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Taufik.
Salah satu langkah kunci yang dikembangkan adalah pembentukan 162 Sekolah Lapangan. Fasilitas ini dijadikan ruang belajar praktik bagi petani untuk memahami teknologi pertanian modern, mulai dari sistem pemupukan presisi, teknik budidaya yang hemat biaya dan ramah lingkungan, hingga manajemen usaha tani yang lebih tertata. Harapannya, petani tidak lagi bergantung penuh pada bantuan musiman, tetapi mampu meningkatkan kapasitas usaha secara mandiri.
Tidak berhenti di situ, Distanak juga mendorong penguatan sisi hulu dan hilir sekaligus. Pendampingan menyasar 28.940 petani, sementara pengadaan bibit ternak ditujukan bagi lebih dari 3 ribu peternak guna memperkuat populasi ternak lokal. Di saat bersamaan, sinergi lintas dinas diperkuat: bekerja sama dengan Dinas Perkebunan (Disbun) untuk menjangkau 4 ribu pekebun, dengan Disketapang untuk 4 ribu petani, serta dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk menguatkan 60 ribu nelayan.
Di tengah proses itu, wajah pertanian Kukar juga mulai diisi generasi baru. Tercatat sekitar 500 petani muda telah terlibat aktif di berbagai kecamatan. Mereka banyak memanfaatkan teknologi, seperti drone sprayer, sistem pencatatan digital data usaha tani, hingga penerapan budidaya ramah lingkungan di lahan produksi.
“Mereka membawa cara pandang baru, memadukan teknologi dan semangat wirausaha,” tambah Taufik.
Agar seluruh program tepat sasaran, Distanak turut membenahi basis data pelaku pertanian. Ribuan kelompok tani yang selama ini tersebar di berbagai kecamatan mulai dipetakan secara lebih rapi melalui Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan). Data ini menjadi acuan penting dalam penyaluran bantuan, perumusan kebijakan, hingga desain program pemberdayaan berbasis desa.
Saat ini, Distanak tengah memperbarui data 48 ribu kelompok tani aktif di Kukar melalui Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan). Memastikan kebijakan dan bantuan yang diberikan oleh Pemkab Kukar tepat sasaran. Program ini diharapkan menjadi pondasi ekonomi pangan tangguh berbasis desa yang tak hanya memproduksi, tetapi juga memandirikan.
“Petani tangguh bukan yang banyak alatnya, tapi yang mandiri dan punya daya saing,” tutup Taufik. (Adv)




