Revitalisasi Pesantren Tertua di Kukar, Yayasan PPKP Ribathul Khail Susun Arah Baru Pembinaan Santri

penakaltim.id Yayasan Pondok Pesantren Karya Pembangunan (PPKP) Ribathul Khail Tenggarong resmi menerima akta perubahan pengurus yayasan bernomor 09 tertanggal 9 April 2026. Dokumen tersebut disahkan oleh Notaris Arief Rachman, dan diserahkan kepada pengurus yayasan di Tenggarong, Jumat, 17 April 2026.
Ketua Yayasan PPKP Ribathul Khail, Akhdar Rivai, menyebut perubahan ini menjadi pijakan awal untuk merumuskan ulang arah pengembangan pesantren. Dalam waktu dekat, yayasan akan menyusun rencana strategis (renstra) sebagai fondasi pembenahan kelembagaan dan sistem pendidikan.
“Langkah pertama kami adalah membenahi renstra. Dari situ akan lahir visi dan misi termasuk paradigma baru dalam pengelolaan pesantren,” ujar Rivai.
Paradigma yang dimaksud mengarah pada penguatan sistem asrama sebagai pusat pembinaan santri. Selama ini, sebagian besar santri masih tinggal di luar lingkungan pesantren. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan proses pembinaan yang terintegrasi.
Dari total sekitar 690 santri yang tercatat saat ini, hanya sekitar 120 orang yang tinggal di asrama. Ketimpangan ini menjadi perhatian utama pengelola. “Ke depan, kami menargetkan mayoritas santri tinggal di asrama. Konsekuensinya, kami harus menyiapkan fasilitas yang memadai, baik untuk putra maupun putri,” katanya.
Rivai memastikan saat ini asrama putri relatif siap digunakan. Sementara itu, pembangunan asrama putra dijadwalkan mulai dipersiapkan dalam waktu dekat.
Menurutnya, sistem asrama akan memudahkan pembinaan karakter sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan. Dari sistem tersebut, pesantren diharapkan mampu melahirkan program-program unggulan yang dapat menjadi identitas atau ikon PPKP Ribathul Khail.
“Dari berbagai program unggulan yang dirancang, nanti akan dipilih satu yang menjadi ikon pesantren sebagai daya tarik,” ujarnya.
Selain pembenahan infrastruktur, yayasan juga menaruh perhatian pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu kebijakan yang akan diterapkan adalah memastikan tenaga pendidik memiliki latar belakang keilmuan yang linear dengan mata pelajaran yang diajarkan.
“Guru harus mengajar sesuai bidang ilmunya. Ini penting agar kompetensi yang diberikan kepada santri benar-benar maksimal,” tegas Rivai.
Selain itu ia mengatakan ke depan proses rekrutmen tenaga pengajar juga akan diperketat. Penerimaan guru tidak lagi bersifat serampangan, melainkan melalui mekanisme seleksi yang terstruktur.
Di sisi lain, penguatan kualitas pesantren juga akan ditopang oleh pembenahan aspek pembiayaan, perlengkapan, dan personel. Yayasan menyadari bahwa ketergantungan pada iuran santri tidak cukup untuk mendukung pengembangan lembaga. Karena itu, sumber pendanaan alternatif, termasuk dari pengelolaan aset dan kerja sama, akan dioptimalkan. Upaya ini juga diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan tenaga pengajar melalui pemberian tambahan insentif.
Pria tersebut menegaskan, seluruh langkah ini bertujuan mengembalikan kejayaan PPKP Ribathul Khail sebagai salah satu pesantren tertua di Kutai Kartanegara yang berdiri sejak 1976. Pada era 1980-an, pesantren ini dikenal sebagai salah satu pusat kaderisasi keagamaan di daerah. Santri-santrinya aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari musabaqah hingga menjadi khatib masjid-masjid di wilayah Kukar.
“Kami ingin mengembalikan marwah itu. PPKP harus kembali hadir dan berperan besar di tengah masyarakat,” tutupnya.
Pembina Yayasan PPKP Ribathul Khail, Fahrurazzi, menambahkan, dengan perubahan pengurus yayasan ini diharap akan membawa semangat baru dalam pengembangan pondok pesantren. “Disaming itu, diharap momentum ini sebagai media untuk saling memaafkan, menutup yang sudah lalu, lalu menyusun aturan baru yang lebih baik ke depan,” ujarnya.
Selain itu, Fahrurazzi, berharap langkah yang dimulai tersebut dapat menjadi awal yang baik dan membawa keberkahan, tidak hanya bagi kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga bagi keberlangsungan pesantren.
Ke depan, ia mendorong Ketua Yayasan, Akhadar Rivai, untuk menjalankan amanah sesuai arahan yang telah disampaikan. “Evaluasi dan pembahasan lanjutan akan kita lakukan secara khusus guna memastikan arah pengelolaan berjalan sesuai harapan bersama,” terangnya.
Sementara Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara, Sunggono, menyampaikan harapan besar terhadap kepengurusan baru Yayasan Pondok Pesantren Karya Pembangunan (PPKP) Ribathul Khail Tenggarong. Ia menegaskan pentingnya peran yayasan dalam menjaga dan mengembangkan lembaga pendidikan keagamaan tersebut.
Sunggono, yang juga sekaligus pembina yayasan PPKP Ribathul Khail, menilai, amanah tersebut bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan juga panggilan pengabdian. “Ini amanah besar yang membutuhkan komitmen dan kesungguhan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan Ribathul Khail tidak terlepas dari peran pemerintah daerah sejak awal pendiriannya. Karena itu, pesantren tersebut dinilai sebagai bagian dari aset daerah yang harus dijaga keberlanjutannya.
“Ribathul Khail ini merupakan salah satu aset pemerintah daerah. Sejak awal, pendiriannya juga diinisiasi oleh pemerintah daerah,” kata Sunggono.
Seiring waktu, lembaga tersebut terus berkembang. Namun, menurutnya, perkembangan itu harus diiringi dengan upaya menjaga kualitas dan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan keagamaan.
“Sekarang sudah semakin berkembang dan maju. Mudah-mudahan aset ini bisa kita jaga bersama agar keberadaannya memberikan manfaat besar, terutama dalam mendidik anak-anak dan umat,” ucapnya.
Lebih jauh, Sunggono berharap pengurus baru dapat mendedikasikan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk memperkuat peran pesantren. Ia menekankan bahwa pengelolaan lembaga pendidikan seperti pesantren membutuhkan totalitas.
“Saya berharap pengurus yang dipercayakan ini bisa mewakafkan waktu, tenaga, dan pemikirannya untuk membesarkan pesantren ini,” akhirinya.




