Viral, Visual, dan Serba Cepat: Cara Baru Kita Mengonsumsi Informasi

OPINI | TENGGARONG – Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana kebiasaan kita berubah akhir-akhir ini? Saat bangun tidur, banyak dari kita langsung mencari ponsel yang tergeletak di dekat bantal. Kita membuka media sosial atau portal berita sebelum melakukan hal lain. Kebiasaan sederhana ini menunjukkan betapa besar perubahan cara kita mengonsumsi informasi di era digital.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat perubahan ini bukan sekadar perkembangan perangkat digital. Ada pergeseran cara berpikir dan cara kita berinteraksi dengan berita. Informasi tidak lagi datang dari satu arah seperti masa koran dan televisi. Sekarang, audiens ikut membentuk arah pemberitaan melalui komentar dan unggahan mereka sendiri.
Fenomena pertama yang sangat mencolok adalah ramainya kembali kasus Vina Cirebon setelah filmnya rilis pada 2024. Kasus yang terjadi pada 2016 itu kembali dibicarakan karena banyak orang menyorotnya di media sosial. Antusiasme publik membuat berita ini menanjak menjadi trending. Faktanya, beberapa konten yang beredar kemudian terverifikasi sebagai hoaks sehingga perhatian publik tidak selalu sejalan dengan keakuratan informasi.
Interaksi yang besar dari warganet membuat banyak orang merasa seolah ikut terlibat dalam penyelidikan. Ada yang menyusun teori, ada yang menekan instansi tertentu, dan ada yang sekadar membagikan potongan video. Semakin tinggi keterlibatan emosi, semakin cepat algoritma platform mendorong konten tersebut ke lebih banyak orang.
Fenomena kedua terlihat pada pemberitaan Ibu Kota Nusantara atau IKN. Topik besar ini paling sering viral bukan karena tulisan panjang atau laporan teknis. Konten yang lebih sering muncul adalah video singkat yang menampilkan drone shot, animasi, atau visual kemegahan bangunan. Orang cenderung lebih mudah mencerna gambar dan musik dibanding teks yang berat.
Portal berita dan kreator konten memahami kecenderungan itu. Mereka memproduksi konten visual karena lebih mudah dibagikan dan disukai. Akibatnya, perkembangan IKN lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk visual yang menarik, bukan melalui laporan mendalam yang menjelaskan data, rencana, atau kritik pembangunan.
Fenomena ketiga muncul dari akun informasi lokal yang ada di Samarinda dan Balikpapan. Banyak orang sekarang lebih mempercayai akun Instagram lokal untuk mendapatkan kabar cepat mengenai kecelakaan, kemacetan, atau kejadian mendadak. Kecepatan menjadi alasan utama mengapa akun seperti ini tumbuh besar.
Namun kecepatan itu memiliki risiko. Verifikasi sering kali dilakukan belakangan, bahkan terkadang tidak dilakukan secara memadai. Banyak media online di Indonesia masih mencatat tingkat ketidakakuratan yang cukup tinggi sehingga pengguna wajib berhati-hati sebelum membagikan ulang informasi yang belum jelas sumbernya.
Dari tiga fenomena ini, saya belajar bahwa viralitas tidak selalu menandakan pentingnya sebuah berita. Informasi bisa viral karena cepat muncul, mudah dilihat, dan melibatkan emosi pembaca. Faktor-faktor itu membuat sebuah topik berputar begitu cepat dari satu layar ke layar lainnya.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya merasa kita perlu lebih kritis dalam menghadapi pola konsumsi berita seperti ini. Tanggung jawab kita tidak hanya memahami bagaimana konten menyebar, tetapi juga memastikan bahwa penyebaran itu tidak meninggalkan kebenaran. Dunia digital memang bising, tetapi kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari kebisingan yang tidak bermakna.
Penulis: Al-Luthfi Budiaris, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman




