Seluang Mudik Warnai Prosesi Bepelas Malam ke VI Erau Adat Kutai 2025

TENGGARONG – Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura kembali melaksanakan prosesi Bepelas Malam ke VI (Seluang Mudik) dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2025. Ritual adat tersebut berlangsung di Keraton Kesultanan atau Museum Mulawarman pada Sabtu malam (27/9/2025).
Kehadiran para pejabat daerah turut menambah kekhidmatan prosesi, di antaranya Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri bersama istri, Sekretaris Daerah Sunggono, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Thauhid Afrilian Noor. Prosesi ini sekaligus menjadi penanda bahwa rangkaian Erau sudah mendekati puncak acara.
Menurut Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrilian Noor, Bepelas Malam ke VI memiliki makna khusus dalam tradisi Kesultanan. Prosesi Seluang Mudik ditandai dengan belimbur beras sebagai simbol pembersihan diri dan pertanda akan digelarnya prosesi menurunkan Naga pada keesokan harinya.
“Bepelas malam ke-VI ini disebut Seluang Mudik, sekaligus belimbur beras. Itu menandakan besok pagi akan ada prosesi menurunkan Naga dan belimbur, sedangkan malam terakhir masih ada Ketayongan dengan pemberian pegelar,” jelasnya.
Ia menambahkan, masyarakat diimbau agar menjaga kondusivitas ketika mengikuti rangkaian belimbur yang selalu dinanti-nanti. Beberapa tahun terakhir, kegiatan tersebut berlangsung aman dan meriah.
“Kami berharap masyarakat mengikuti titah Sultan. Beberapa tahun terakhir belimbur berlangsung kondusif, semoga tahun ini juga tetap aman, ramai, dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Selain prosesi Seluang Mudik, masyarakat juga mempercayai adanya makna simbolis berbagi rezeki melalui tradisi pemberian uang kepada pihak-pihak tertentu dalam lingkungan ritual. Namun makna sakral yang lebih mendalam tetap menjadi ranah Kesultanan untuk menjelaskannya.
Rangkaian Erau Adat Kutai 2025 sendiri akan berlanjut hingga Senin (29/9/2025). Pada hari terakhir, akan digelar prosesi Rebah Ayu atau merebahkan Tiang Ayu, dilanjutkan dengan ziarah ke makam raja-raja, dan ditutup dengan rapat paripurna DPRD dalam rangka memperingati HUT Kota Tenggarong ke-243. (Adv/disdikbudkukar)




