BMX Kukar Berprestasi dalam Sunyi

penakaltim.id Di balik gemerlap podium dan kilau piala kejuaraan BMX, ada cerita sunyi tentang peluh, pengorbanan, dan perjuangan yang kerap luput dari sorotan. Cerita itu datang dari Deri Wirayuwanda, pelatih sekaligus atlet BMX Cross asal Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang memilih bertahan di lintasan meski dukungan pemerintah nyaris tak pernah singgah.
Sepanjang 2025, Deri bersama putranya, Dilfa Wirayuwanda, melintasi jarak ribuan kilometer demi mengikuti Event BMX Merdeka Series 1 hingga Series 3 di Yogyakarta. Semua biaya mulai dari transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan lomba ditopang penuh oleh sponsor. Pemerintah daerah, kata Deri, tak pernah hadir, bahkan ketika BMX berjuang membawa nama daerah.
“Dari awal sampai series terakhir, semua full biaya sponsor. Di kota sendiri, BMX seperti tidak dianggap,” ujar Deri, Jumat, 26 Desember 2025.

Rasa getir itu kian terasa ketika Deri tidak dilibatkan sebagai pelatih dalam ajang Pra-Porprov maupun Babak Kualifikasi (BK) Kutai Kartanegara pada 2025. Padahal, sejak 2022 ia telah mengantongi lisensi pelatih BMX Cross dan sempat menimba ilmu langsung di Pulau Jawa. Pengalaman, dedikasi, dan rekam jejak prestasi seolah tak cukup untuk membuka pintu perhatian.
Namun Deri memilih tidak berhenti. Di tengah keterbatasan, ia justru memusatkan tenaga dan harapan pada pembinaan atlet muda, terutama Dilfa. Dari tangannya sendiri, sang anak tumbuh menjadi pebalap yang disegani di lintasan Jawa.

“Kalau anak saya bertanding di Jawa, hampir selalu bawa prestasi. Minggu lalu juga juara dua di Merdeka Series Yogyakarta,” katanya, dengan nada bangga yang tak mampu menyembunyikan lelah.
Bagi Deri, setiap lomba bukan sekadar soal piala. Ada harga yang harus dibayar: waktu bersama keluarga, tenaga, dan keyakinan bahwa perjuangan ini kelak akan berarti. Tantangan itu belum selesai. Tahun 2026, sederet kejuaraan internasional di Thailand dan Malaysia telah menanti.
Sekali lagi, Deri harus melangkah sendiri. Mencari sponsor, mengetuk pintu demi pintu, tanpa menggantungkan harapan pada pemerintah. “Saya tidak berharap ke pemerintah. Intinya, kami satu-satunya rider dari Kaltim yang bisa membawa piala,” ucapnya tegas.
Di lintasan BMX, Deri dan Dilfa terus melaju. Bukan hanya mengejar garis finis, tetapi juga memperjuangkan pengakuan. Sebab, bagi mereka, setiap kayuhan pedal adalah upaya mengharumkan nama Kalimantan Timur, meski sering kali harus dilakukan dalam sunyi.




