Transformasi Hilirisasi Kakao: Kutai Timur Bidik Pasar Cokelat Nasional

Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Perkebunan (Disbun) kini tengah mempercepat langkah untuk mengubah wajah sektor perkebunan kakao. Tak lagi sekadar menjual biji mentah, wilayah Kaubun dan Karangan kini dipacu menjadi pusat industri pengolahan cokelat premium di Kalimantan Timur.
Langkah ini diambil menyusul tren positif harga komoditas kakao dalam dua tahun terakhir. Fokus utama pengembangan berada di Desa Pengadan Baru, Kaubun, di mana Kelompok Tani Kakao Sejahtera mengelola lahan seluas 170 hektare.
Kepala Bidang Usaha, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Disbun Kutim, Aminudin Azis, menyatakan bahwa komitmen ini sejalan dengan visi Bupati untuk memperkuat sektor hilir.
“Sekarang harga kakao sedang bagus, sehingga program pengembangan ini kami dorong lebih kuat sesuai arahan Bupati agar Kutim mampu mengolah kakao menjadi coklat berkualitas,” jelas Aminudin.
Selain bantuan alat pengolahan untuk melengkapi fasilitas dari provinsi, Disbun juga berinvestasi pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Para petani lokal dikirim magang ke pusat pengolahan cokelat ternama di Bandung dan Bogor demi menguasai teknik produksi standar industri.
“Tujuannya agar olahan coklat dari Kutim memiliki rasa yang diterima pasar, baik lokal maupun nasional,” tambahnya.
Optimisme ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan uji sampel di Jawa Barat, kakao asal Kutim terbukti memiliki keunggulan karakteristik yang unik dibanding daerah lain.
“Untuk komoditas kakao, kami secara terus-menerus melakukan pendampingan di sentra-sentra utama seperti Kaubun dan Karangan karena potensi kualitas aroma dan bijinya dinilai lebih baik,” pungkas Aminudin.
Dengan perpaduan kualitas bahan baku yang unggul dan teknologi pengolahan yang tepat, Kutai Timur optimistis produk cokelat lokal mereka segera mampu bersaing di kancah nasional.




