Kutai Kartanegara

85 Orang Diduga Keracunan MBG di Sebulu, Operasional SPPG Dihentikan Sementara

TENGGARONG – Dugaan keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Sebulu Ulu, Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara (Kukar), kini masuk tahap investigasi. Sebanyak 85 orang dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual hingga muntah setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu, Senin (3/8/2026).

Kasus tersebut langsung ditindaklanjuti Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar bersama Badan Gizi Nasional (BGN) Kaltim. Tim melakukan investigasi ke SPPG Sebulu Ulu dan Puskesmas Sebulu 1 pada Selasa (4/8/2026).

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan puluhan pasien mulai berdatangan ke Puskesmas Sebulu 1 sejak sekitar pukul 09.14 WITA. Dari 85 pasien yang tercatat, 82 orang menjalani rawat jalan dan tiga lainnya sempat menjalani rawat inap.

“Pasien pertama kali ditemukan masuk sekitar jam 09.14 Wita. Sampai saat ini tercatat ada sekitar 85 pasien, dengan rincian 82 pasien rawat jalan dan tiga pasien rawat inap. Ketersediaan obat-obatan dan cairan di puskesmas sangat cukup untuk menangani para korban,” kata Ismi, Selasa (4/8/2026).

Menurut Ismi, gejala yang muncul relatif seragam. Keluhan yang dilaporkan antara lain pusing, mual dan muntah dengan waktu kemunculan sekitar satu hingga satu setengah jam setelah makanan dikonsumsi.

Para pasien berasal dari sejumlah penerima manfaat MBG, termasuk siswa dari 10 sekolah dengan jenjang TK, SD, MI hingga MTs. Selain siswa, laporan pasien juga mencakup ibu hamil dan ibu menyusui dari enam titik posyandu.

Tiga pasien yang sempat menjalani rawat inap karena mengalami gejala lebih berat disebut telah menunjukkan kondisi membaik dan dipersiapkan untuk dipulangkan.

Dinkes Kukar belum menyimpulkan makanan maupun bahan tertentu sebagai penyebab kejadian tersebut. Untuk memastikan sumber dugaan keracunan, petugas telah mengamankan sampel makanan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium di Balai POM.

“Kami belum bisa mendeklarasikan bagian makanan mana yang menjadi penyebabnya sebelum ada hasil resmi dari Balai POM agar tidak terjadi misleading. Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan keluar dalam waktu sekitar dua minggu,” jelas Ismi.

Menurutnya, penetapan penyebab harus berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, bukan hanya berdasarkan dugaan atau kesamaan gejala yang dialami pasien.

Dinkes Kukar juga melakukan pemeriksaan terhadap aspek higiene dan sanitasi dalam proses penyediaan makanan. SPPG Sebulu Ulu diketahui telah memiliki sertifikat laik sehat dan selama ini berada dalam pemantauan petugas kesehatan lingkungan.

Di sisi lain, operasional SPPG Sebulu Ulu dihentikan sementara setelah munculnya laporan dugaan keracunan tersebut.

Kepala SPPG Sebulu Ulu, Rahmatullah Ananda Putra, mengatakan penghentian sementara dilakukan sembari pihaknya mengumpulkan data dan menunggu arahan lebih lanjut.

“Untuk hari ini kami tidak beroperasi karena fokus menyelesaikan dan mengumpulkan data terkait kejadian kemarin. Kami menunggu pendalaman lebih lanjut serta arahan dari pimpinan pusat,” ujarnya.

Rahmatullah menjelaskan, pada hari kejadian SPPG Sebulu Ulu memproduksi sekitar 1.834 porsi makanan yang didistribusikan kepada sekolah dan posyandu di wilayah sekitar.

Proses pengolahan makanan dimulai sekitar pukul 01.00 Wita. Sebelum didistribusikan, makanan terlebih dahulu menjalani uji organoleptik atau pengecekan menggunakan indera sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

Distribusi makanan dilakukan sekitar pukul 07.30 Wita. Ia mengatakan bahan baku, termasuk daging yang digunakan untuk menu pentol, dipasok setiap hari dan diupayakan dalam kondisi segar. Pemasok juga diarahkan berasal dari wilayah sekitar untuk mendukung pelaku usaha lokal.

“Supplier kita bukan hanya bahan hewani, tapi ada sayur atau buah dan bahan pokok. Kami pastikan fresh, karena SOP-nya seperti itu,” jelasnya.

Meski demikian, pihak SPPG menyerahkan penentuan penyebab kejadian kepada hasil pemeriksaan dan investigasi yang dilakukan oleh instansi berwenang.

Penanganan kasus saat ini dilakukan secara lintas sektor. SPPG Sebulu Ulu berkoordinasi dengan Puskesmas Sebulu 1, kepolisian dan TNI setempat, termasuk dalam pendataan pasien serta komunikasi dengan orang tua siswa.

Hasil pemeriksaan Balai POM nantinya menjadi salah satu dasar penting untuk memastikan apakah makanan MBG tersebut berkaitan dengan keluhan kesehatan yang dialami puluhan penerima manfaat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button