350 Penari Bersiap Tampil di Erau 2026, Membawa Pesan Menjaga Alam dan Warisan Kutai

penakaltim.id Debu beterbangan setiap kali kaki para penari menghentak permukaan lapangan yang mengering. Di bawah terik matahari, ratusan orang terus mengulang gerakan yang sama. Formasi, transisi koreografi terus dilakukan, hingga diulang untuk menemukan keseragaman.
Pada Senin sore, 7 September 2026, di lapangan Stadionn Rondong Demang Tenggarong, Kutai Kartanegara, sebanyak 350 penari tengah mematangkan pertunjukan untuk Erau Adat Kutai 2026. Mereka disiapkan untuk tampil dalam Opening Ceremony Erau, pada 20 September 2026 mendatang.
Di balik jumlah penari yang besar itu terdapat gagasan yang hendak disampaikan melalui pertunjukan bertajuk “Penjaga Tahta di Tepian Mahakam”. Tajuk tersebut tidak berhenti pada simbol Kesultanan Kutai. “Tahta” dimaknai lebih luas sebagai tanggung jawab bersama untuk menjaga alam, kebudayaan, kehidupan sosial, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Pimpinan Produksi, Misra Budiarto, mengatakan perkembangan latihan sejauh ini berjalan sesuai harapan. Keterlibatan berbagai kelompok etnis di Kutai Kartanegara juga akan memperkaya pertunjukan. “Alhamdulillah, hari ini sudah hari ke-20 di lapangan ini. Kalau progres, insya Allah sudah cukup menggembirakan,” kata Misra.
Misra menceritakan, pesan utama pertunjukan adalah memperluas pemahaman mengenai siapa yang memiliki kewajiban menjaga daerah. Menjaga tahta, dalam konteks pertunjukan tersebut, bukan semata-mata tugas raja atau Kesultanan Kutai. Tanggung jawab itu juga melekat kepada pemerintah daerah, tokoh masyarakat, pemuka agama, pemangku adat, hingga masyarakat.
“Bertanggung jawab memelihara itu bukan saja kepada pemerintah, bukan kepada kepala daerah, bukan kepada Sultan, tapi seluruh lapisan masyarakat akan terlibat untuk memelihara alam kita ini,” ujarnya.
Diketahui, saat ini, sejumlah etnis, paguyuban, dan kelompok tari dari kesultanan bergabung turut berpartisipasi dalam pertunjukan tari massal Erau 2026, itu. Di antaranya Kelompok tari Kesultanan Ing Martadipura, Cahaya Kedaton, etnis Dayak Bahau, Kenyah, Benuaq, kelompok tari lokal, hingga pelajar.
Bagi Misra, keberagaman tersebut bukan sekadar ornamen pertunjukan. Kehadiran berbagai etnis merupakan bagian dari pesan yang hendak dibawa ke panggung Erau: Kutai Kartanegara memiliki keragaman budaya yang hidup berdampingan.
Pria tersebut kemudian menerangkan, sebanyak 350 penari bukan satu-satunya kekuatan yang bekerja di lapangan. Sekitar 50 orang yang tergabung dalam tim produksi turut mendukung proses persiapan. Dengan demikian, sekitar 400 orang terlibat setiap hari dalam proses latihan dan produksi pertunjukan.

Erau dan Ruang bagi Seniman Lokal
Pertunjukan Erau Adat Kutai 2026 dipercayakan kepada Komunitas Seni Budaya (KSB) Seraong Kalimantan Timur. Bagi komunitas tersebut, produksi Erau tahun ini menjadi pengalaman pertama.
Misra sendiri bukan sosok baru dalam kegiatan kebudayaan Kutai. Ia pernah terlibat dalam pengemasan Erau ketika menjabat Ketua Lembaga Pembinaan Kebudayaan Kutai atau LPKK. Pengalamannya dalam produksi kegiatan kebudayaan juga mencakup sejumlah daerah, dari Samarinda hingga Jakarta.
Namun, ada satu hal yang berbeda dalam produksi kali ini. Jika sebelumnya Misra kerap melibatkan koreografer maupun komposer dari Jakarta dan Pulau Jawa, kali ini ia memilih memberikan porsi lebih besar kepada seniman lokal.
Menurut dia, sejumlah putra daerah yang terlibat memiliki latar pendidikan seni dan kebudayaan yang memadai, termasuk lulusan strata satu dan strata dua.
“Tapi untuk kali ini saya akan menggunakan putra daerah. Kebetulan putra daerah ini ada seniman lulusan S1, ada yang S2. Maka kita coba berkolaborasi dengan putra daerah untuk mengemas kegiatan ini,” katanya.
Pilihan tersebut sekaligus menjadi ruang pembuktian bagi pekerja seni lokal bahwa produksi pertunjukan berskala besar dapat dikerjakan dengan sumber daya kreatif dari daerah sendiri. Selain itu, Misra ingin memastikan pertunjukan tersebut mampu membangun kembali identitas Erau sebagai perayaan kebudayaan Kutai yang mencerminkan budaya dan adat istiadat lokal.
“Target kita harus sukses, harus memukau. Dan kita mau kembali Erau yang sebenarnya,” tuturnya.




