Kalimantan TimurKutai KartanegaraNusantara

Kukar Youth Hub Ajak Pelajar Mengenal Sejarah Kesultanan Kutai Lewat Cultural Summit 2026

TENGGARONG Pengenalan sejarah dan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi fokus kegiatan Kutai Cultural Summit 2026 yang digelar Kukar Youth Hub di Pendopo Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Kamis (5/11/2026). Kegiatan yang dikemas dalam bentuk talkshow kebudayaan itu melibatkan perwakilan pelajar tingkat SD, SMP, SMA, SMK, hingga mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Tenggarong. Sementara sebagai pemateri yakni budayawan, sejarawan lokal hingga kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Ketua Kukar Youth Hub, Syahrul, mengatakan forum tersebut mengangkat tema Mengenal Lebih Dekat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura melalui Bingkai Sejarah dan Tradisi Luhur bagi Generasi Muda Kutai Kartanegara. Menurut Syahrul, pelibatan peserta dari berbagai jenjang pendidikan dimaksudkan untuk memperluas akses generasi muda terhadap pengetahuan sejarah dan kebudayaan lokal.

“Peserta dalam kegiatan ini merupakan perwakilan pelajar SD, SMP, SMA, SMK, hingga mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Tenggarong,” kata Syahrul.

Dalam diskusi tersebut, panitia menghadirkan tiga pemateri untuk membahas aspek berbeda dari sejarah dan tradisi Kesultanan Kutai.  Awang M Rifani memaparkan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Ridzki Agusty Alwie membahas peran Sultan Kutai dari masa ke masa. Sementara Rusdiansyah menjelaskan sejarah dan prosesi Erau Adat Kutai.

Ketiga pembahasan itu mencakup perjalanan kesultanan, dinamika kepemimpinan para Sultan, hingga tradisi adat yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Kutai Kartanegara. Syahrul menjelaskan, kegiatan tersebut tidak sekadar memperkenalkan sejarah kepada peserta. Kukar Youth Hub juga ingin membangun kesadaran generasi muda mengenai pentingnya memahami dan menjaga identitas budaya daerah.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan Kutai dari cerita atau perayaan adat, tetapi juga memahami sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Dia berharap, pemahaman tersebut dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap warisan budaya lokal. Kesadaran itu juga diharapkan mendorong keterlibatan pemuda dalam pelestarian tradisi Kutai di tengah perkembangan zaman.

“Harapannya dari kegiatan ini muncul rasa bangga dan kepedulian dari generasi muda terhadap budaya daerah sendiri.,” akhiri Syahrul.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button