Kutai Kartanegara

Terbengkalai Bertahun-tahun, Aset Rp23 Miliar di Panji Kini Dipoles Warga

TENGGARONG – Aset daerah senilai sekitar Rp23 miliar di Kelurahan Panji, Tenggarong, yang sempat terbengkalai selama bertahun-tahun kini mulai dihidupkan kembali. Taman Replika Kerajaan Nusantara di Jalan Anggana, RT 15, perlahan dibenahi melalui swadaya warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Panji Berseri.

Taman yang dibangun sejak 2021 itu sebelumnya dalam kondisi memprihatinkan. Minimnya pemeliharaan membuat kawasan dipenuhi semak belukar, pagar pembatas roboh, sementara sejumlah bangunan replika terlihat kusam dan ditumbuhi lumut.

Bahkan, satu dari delapan miniatur yang berada di kawasan tersebut mengalami kerusakan berat hingga hanya menyisakan bagian fondasinya.

Padahal, taman ini dirancang sebagai kawasan edukasi yang menghadirkan miniatur sejumlah bangunan bersejarah dan ikonik. Di antaranya Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martapura, Candi Tikus Majapahit, Candi Mahligai, Kerajaan Sriwijaya, Istana Tanjung Palas, Istana Gunung Tabur, serta Menara Eiffel dan Menara Pisa.

Kini, kondisi kawasan mulai berubah. Dalam sekitar tiga bulan terakhir pada 2026, anggota Pokdarwis Panji Berseri bergotong royong membersihkan kawasan dan memperbaiki tampilan sejumlah miniatur.

Pengecatan dilakukan secara mandiri menggunakan cat khusus untuk luar ruangan agar lebih tahan terhadap paparan cuaca.

Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus Darmawan, mengapresiasi langkah warga yang mengambil inisiatif untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut. Menurutnya, pengelolaan Taman Replika Kerajaan Nusantara saat ini telah diserahkan kepada Pokdarwis Panji Berseri.

“Saya salut melihat semangat swadaya mereka. Anggota Pokdarwis turun langsung mencicil pembersihan setiap hari. Sekarang kawasannya sudah jauh lebih bersih, dan miniatur yang dulunya kusam sudah kembali bagus setelah dicat ulang,” kata Awang.

Selain membenahi bangunan replika, Dispar Kukar melihat potensi lain yang dapat dikembangkan di kawasan tersebut, yakni danau buatan yang berada di dalam area taman.

Danau itu dinilai dapat menjadi daya tarik tambahan apabila nantinya dilengkapi wahana rekreasi air, seperti kapal kecil untuk membawa pengunjung berkeliling.

Namun, arah pengembangan kawasan tersebut belum ditentukan secara final. Konsepnya masih terbuka, mulai dari eduwisata, ekowisata hingga kawasan kuliner.

“Mengenai konsep akhir maupun arah pengembangannya menjadi eduwisata, ekowisata, atau pusat kuliner, pihak dinas menyerahkan keputusan penuh kepada Pokdarwis selaku pengelola lapangan,” jelasnya.

Di tengah proses pembenahan, persoalan infrastruktur dasar masih menjadi pekerjaan rumah. Pengelola menghadapi keterbatasan air bersih dan belum tersedianya jaringan listrik yang memadai.

Untuk kebutuhan listrik, Dispar Kukar mengusulkan penarikan jaringan dari kawasan Museum Kayu yang lokasinya relatif dekat dengan taman.

“Sambungan listrik ini untuk penerangan malam hari serta menunjang pengawasan keamanan area taman,” ujarnya.

Pembenahan tersebut diharapkan tidak berhenti pada perbaikan fisik. Dengan pengelolaan yang lebih aktif, taman yang sempat lama tidak terawat itu diharapkan kembali menjadi ruang rekreasi sekaligus edukasi bagi masyarakat.

Keberadaan taman juga dinilai dapat menjadi pilihan wisata lokal yang lebih terjangkau bagi masyarakat Tenggarong dan sekitarnya.

“Dengan adanya Taman Replika di Tenggarong dapat menghemat, dan seru bagi warga Tenggarong dan sekitarnya tanpa harus bepergian keluar daerah,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button