Lanjong Art Festival 2025: Dari Lokal ke Internasional, Kukar Jadi Panggung Seni Dunia

TENGGARONG – Setelah berlangsung selama enam hari penuh, Lanjong Art Festival (LAF) 2025 resmi ditutup di Kampong Seni Ladaya, Tenggarong, Rabu (27/8/2025) malam. Festival seni dua tahunan ini menghadirkan pertunjukan dari seniman lokal hingga mancanegara, dengan antusiasme penonton yang tetap tinggi hingga akhir acara.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Thauhid Afrilian Noor, menyampaikan apresiasi atas suksesnya gelaran tersebut. Ia menilai LAF 2025 menjadi ajang yang mampu menampilkan keragaman seni sekaligus menunjukkan perkembangan budaya di Kukar.
“Festival ini menyuguhkan pertunjukan yang sangat kompleks, ada teater, musik, seni teatrikal dari lokal maupun luar negeri. Saya anggap ini keberhasilan yang sangat sukses. Pemerintah berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut hingga tahun depan dengan lebih banyak lagi penampilan,” kata Thauhid.
Ia menambahkan, keberlangsungan seni dan budaya merupakan penanda majunya suatu daerah.
“Kalau seninya hidup, budayanya tumbuh, senimannya terus berkarya, maka sebuah daerah juga akan berkembang. Semakin banyak komunitas dan kelompok seni yang menggeliat, semakin kuat pula identitas budaya kita,” tegasnya.
Sementara itu, Pembina Yayasan Lanjong, Dedy Sudarya atau yang akrab disapa Nala Arung, menyoroti nilai yang dibawa festival ini bagi penonton. Menurutnya, LAF 2025 bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah tontonan yang menghadirkan kualitas berbeda.
“Saya ingin masyarakat mendapatkan tontonan yang punya nilai gizi lebih dibanding hiburan biasa. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung selama enam hari penuh. Bahkan kehadiran penonton saja sudah menjadi bentuk apresiasi yang tinggi bagi kesenian semacam ini,” ujarnya.
Nala menegaskan, LAF 2025 menghadirkan kualitas pertunjukan yang lebih tinggi dengan skala internasional.
“Tahun ini semuanya tampil dengan totalitas luar biasa. Mungkin karena lama vakum, semangat para seniman jadi sangat besar untuk merayakannya,” ucapnya.
Meski LAF tetap digelar dua tahun sekali, ia menyebut Yayasan Lanjong berencana menghadirkan program seni lain di luar festival utama.
“Akan ada evaluasi dan diskusi untuk pengembangan event. Bisa jadi ada program lain yang juga memberi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan-pertunjukan bagus di Kukar,” jelasnya.
Di akhir, ia memberikan apresiasi khusus kepada insan media.
“Tanpa dukungan media, acara sebesar ini bisa saja lewat begitu saja tanpa gaung yang luas. Jadi saya sangat berterima kasih,” pungkasnya. (Adv/disdikbudkukar)




