Bahasa Kutai dan Inggris Masuk Silabus, Disdikbud Kukar Bekali Guru SD Lewat Bimtek

TENGGARONG – Bahasa daerah kini tak lagi dipandang sebelah mata. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus mendorong pelestarian bahasa dan budaya lokal lewat dunia pendidikan.
Salah satunya dilakukan lewat kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) penyusunan silabus muatan lokal untuk guru dan kepala sekolah dasar (SD) se-Kukar. Kegiatan ini dibuka pada Senin (7/7/2025) di Hotel Grand Fatma Tenggarong, dan akan berlangsung selama tiga hari.
Sebanyak 113 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai sekolah dasar di penjuru Kukar, berkumpul dengan satu tujuan: memperkuat kompetensi dalam menyusun silabus muatan lokal, terutama Bahasa Kutai dan Bahasa Inggris.
Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrilian Noor, menegaskan pentingnya pembelajaran berbasis muatan lokal. Menurutnya, anak-anak perlu dikenalkan sejak dini pada bahasa dan budaya daerah sebagai bagian dari pembentukan karakter.
“Silabus muatan lokal ini sangat penting. Kalau anak sejak kecil tidak dikenalkan, maka bisa jadi mereka kehilangan akar budaya. Jadi peran guru sangat besar dalam menjaga identitas ini,” kata Thauhid.
Thauhid juga menyebut bahwa penyusunan silabus kali ini melibatkan para ahli bahasa dari berbagai daerah di Kukar. Hal ini dilakukan karena Bahasa Kutai sendiri memiliki banyak dialek, tergantung wilayahnya.
“Di Sebulu beda, di Muara Muntai atau Kenohan juga punya ciri khas masing-masing. Jadi kita tidak bisa menyamaratakan. Butuh penyusunan materi yang benar-benar sesuai konteks lokal,” ujarnya.
Tak hanya sebatas silabus, Disdikbud Kukar juga tengah menyiapkan kamus Bahasa Kutai untuk mendukung pembelajaran. Nantinya, kamus ini akan dibagikan bersama buku ajar secara gratis ke sekolah-sekolah. Thauhid memastikan bahwa tidak akan ada pungutan atau pembelian mandiri.
“Pemerintah yang siapkan semua. Guru dan siswa tidak perlu membeli. Buku dan kamus akan dicetak dan disalurkan langsung ke sekolah,” tegasnya.
Penyusunan silabus muatan lokal ini akan disesuaikan dengan jenjang kelas, dari kelas 1 hingga kelas 6 SD. Meskipun prosesnya tidak singkat, namun Thauhid optimistis dapat diselesaikan tepat waktu agar segera diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Ia berharap lewat kegiatan ini, guru-guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi penjaga budaya yang mengakar pada generasi muda Kukar.
“Kalau gurunya paham dan menguasai silabus, maka pembelajarannya akan terarah. Kita ingin pendidikan yang bukan hanya akademis, tapi juga kontekstual dan membumi,” pungkasnya. (adv/disdikbudkukar)




